9 Alasan Metodologi Agile Software Development Sangat Populer

infografis metode agile

Saat kita mengembangkan sistem ICT, ada panduan dan aturan yang sebaiknya kita pegang teguh supaya proyek ini kelar dengan hasil yang oke. Panduan dan aturan tadi biasanya disebut metode pengembangan software.

Ada beberapa macam metode yang umum dipakai, salah satunya adalah metodologi Agile Software Development. Metodologi apa ini, kok bisa populer?

Selama mengampu mata kuliah tentang pengembangan sistem, udah banyak metodologi yang saya bahas di kelas. Ada metodologi yang difavoritkan sama mahasiswa, ada juga yang mereka hindari. Agile Software Development ini adalah salah satu yang cukup sering dipakai. Alasannya, metodologi ini lebih cepat di tahap verifikasinya dan banyak menghemat aktifitas proyek yang nggak penting.

Mengenal metodologi ini lebih jauh pasti bikin Anda makin tertarik untuk pakai Agile Software Development di setiap proyek ICT yang Anda dapat. Ada banyak benefit untuk proyek ICT kalau pakai metodologi ini.

Agile Software Development seharusnya udah sering dibahas selama kuliah, tapi saat diterapkan waktu kerja, ada hal-hal ngagetin yang ternyata nggak ada di buku. Mulai dari dampak baik buruknya, prinsipnya, spektrumnya, sampai karakteristiknya. Kita akan bahas semua itu di artikel kali ini.

Nah, apa sih metodologi Agile Software Development itu?

Agile adalah kata yang bermakna gesit, luwet, siap bergerak, atau aktifitas yang responsif. Metodologi Agile Software Development muncul akibat dari meledaknya populasi pengguna Internet dan aplikasi mobile yang bermunculan di seluruh dunia.

Jaman dulu orang browsing lewat ponsel mikirnya, “Ah nggak asik, layarnya kecil.” Sekarang udah jadi lumrah, gegara layar ponsel makin gede, bahkan segede layar monitor.

Tahun 2000, Truex meneliti apakah para pengembang ICT menggunakan aturan dan panduan waktu mereka ngerjain proyeknya. Ternyata, ada dua kategori metodologi yang dipakai, yang istimewa dan yang terpinggirkan. Metodologi yang istimewa punya proses yang terkenali, metodologi satunya lagi bersifat random. Metodologi istimewa prosesnya linear, satunya simultaneous.

Mulai dari situ muncullah ide untuk bikin metodologi yang bisa jadi penengah, nggak istimewa, nggak terpinggirkan juga.

Highsmith dan Cockburn mengatakan, “Apa yang baru dari metode Agile bukan pada prakteknya, tapi pada pemahaman manusia sebagai penggerak utama kesuksesan proyek, bersama dengan nilai fokus yang intens pada efektifitas dan kemampuan bermanuvernya.”

Apa saja hal-hal pada metode ASD ini yang bikin dia populer, ya?

#1 Berfokus Pada Hubungan Developer dengan Aturan di Kontrak

Pada praktek ASD, nilai ini ditunjukkan dalam hubungan tim tertutup, lingkungan susunan kerja yang juga tertutup, plus prosedur yang meningkatkan semangat tim. ASD sangat baik jika Anda punya tim yang jumlahnya tidak terlalu banyak, jadi komunikasi intens antar tim lebih bermanfaat untuk proyek. Metode ini berlawanan dengan proses dan alat pengembangan yang sifatnya institusional.

#2 Rilis Software Produk Teruji dan Rutin

Target utama tim di metodologi ASD adalah terus menerus menghasilkan ‘working software’ yang teruji dalam interval tertentu. Bisa setiap bulan, setiap minggu, atau bahkan setiap hari. Barisan kode program yang dihasilkan juga akan lebih sederhana dan terdepan, jadi masalah untuk menulis dokumentasi program bisa dibikin ringan.

#3 Naskah Kontrak untuk Hubungan dengan Client Selalu Berkembang

Adanya naskah kontrak yang ketat untuk kerja sama antara developer dengan client akan dikembangkan terus menerus. Kontrak akan berkembang sesuai dengan ukuran produk proyek. Semakin besar produknya, kontrak semakin ketat. ASD sangat fokus dalam nilai bisnis sejak awal proyek dimulai, supaya mengurangi angka resiko tidak terlaksananya target proyek di kontrak.

#4 Tim Wajib Kompeten

Seluruh pihak yang terlibat selama proyek, baik itu developer maupun konsumen pemakai produk, harus kompeten dan berijin. Selama proyek berlangsung, mereka harus mendapat notifikasi untuk setiap perubahan atau pengembangan produk. Plus, kompetensi mereka juga harus tinggi, supaya selalu siap kalau-kalau ada perubahan atau pengembangan produk yang diminta.

#5 Kombinasi dengan Metode Lain

Satu metodologi nggak bisa dipakai untuk keseluruhan spektrum proyek. Sebaiknya, manajemen proyek harus bisa menyesuaikan sifat proyek dengan metodologi pengembangan yang cocok untuknya. Boleh lebih dari satu metodologi yang dipakai.

Menurut McCauley, ada kebutuhan untuk metode Agile dengan metode yang berorientasi proses dalam satu proyek, karena tidak ada model pengembangan software yang benar-benar pas untuk seluruh tujuan proyek yang ada.

#6 Metode ini Ringan

Metode ASD sifatnya ringan, yang berarti mudah dibikin manuver. Selama proyek, terkadang ada perubahan besar yang mendadak harus dilakukan. Metode ASD paling pas di situasi seperti ini karena kualitas komunikasi tim dan proses pengujian dan perbaikan yang singkat.

#7 Banyak Pilihan Tipe Agile

Anda harusnya pernah mendengar atau belajar tentang Scrum, Extreme Programming, atau Kanban. Ketiganya termasuk metode pengembangan yang dikategorikan sebagai metode Agile Software Development. Metode Scrum sangat terkenal dengan aturan yang terdeskripsi rinci, iterasi yang sedikit, jadwal yang ketat, dan desakan untuk merilis produk yang berkualitas di setiap iterasinya. Metode lainnya akan kita bahas di artikel khusus, ya!

#8 Metode Pengujian Level Tinggi, Behaviour Driven Development

Metode pengujian ini terkenal dengan spesifikasi fungsionalnya dan fungsi pengujian otomatis yang bikin dia sangat efisien. Pengujian tidak berdasarkan requirement, pengujian dilakukan selama masa pengembangan fitur produk. Metode ini cocok untuk tim yang fokus pada fitur software atau pada tim yang mengutamakan user experience.

#9 Kekurangan-Kekurangan Metodologi Agile Masih Masuk Akal

Nggak ada metodologi yang perfect. Agile tidak akan berguna kalau client masih bingung dengan apa yang mereka inginkan, atau manajer proyek dan tim belum punya banyak pengalaman, atau tim yang mudah goyah saat kena tekanan selama proyek. Semua itu masih umum dan bisa dimaklumi, kan ya. Kalau client bingung apalagi developer. Kalau manajer proyek masih dianggap ‘newb’, proyek apapun nggak akan lancar ngerjainnya.

Fokus utama saat banyak tim ICT memilih ASD sebagai metodologi mereka adalah karena sifat sederhana dan kecepatannya. Tim hanya harus fokus pada fungsi utama produk yang diperlukan, mempresentasikannya seawal mungkin, kemudian mengumpulkan feedback, terus merespon feedback itu dengan perbaikan-perbaikan.

Suatu metode pengembangan dikatakan bersifat Agile saat memenuhi empat aspek ini: incremental (produk software sederhana namun diperbaiki berulang dengan cepat), cooperative (konsumen dan developer bekerja sama melalui komunikasi yang intens), straightforward (mudah dipelajari dan diimplementasikan), dan adaptive (mudah beradaptasi dengan perubahan).